Jatuh Cinta dengan Alam Indonesia

Selalu ada perasaan berbeda saat aku memasuki ruang pesawat, selalu saja ada decak kagum yang tak pernah berhenti sedari dulu hingga sekarang. Masih teringat olehku saat pertama kali aku menaiki pesawat ke benua Australia. Waktu itu usiaku masih 5 tahun, kata beberapa orang, biasanya anak kecil kerap lupa soal banyak hal. Tapi tidak untuk beberapa moment tertentu. Aku masih ingat ada bau harum yang berbeda saat aku menginjakan kakiku ke dalam pesawat, aku juga suka bau harum dari makanan yang siap di sajikan untuk penumpang.

Tidak hanya itu,  diriku di berikan boneka, kartu untuk bermain, walaupun waktu itu aku masih tidak paham apa itu kartu remi, sampai di berikan miniatur pesawat maskapai tersebut. Rasanya kakak pramugari adalah malaikat! Memberikan aku selimut, dan susu kotak sebelum aku tidur.

Semenjak saat itu, aku pun langsung bercita-cita untuk menjadi pramugari.  Tetapi, Seiring berjalannya waktu, keinginan untuk menjadi pramugari pun sirna, karena muncul cita-cita lain dalam diriku. Namun, keinginan untuk menjelajah dunia tetap bergelora di dalamku.

Dulu aku sibuk sekali memikirkan negara mana yang aku harus jelajahi selanjutnya. Sampai suatu saat, tanteku mengajak ku untuk berlibur ke pulau belitung. Saat itu aku pun berpikir, ‘Orang Indonesia macam apa aku ini? Katanya cinta Indonesia, tapi kok untuk travelling selalu memilih untuk jalan-jalan ke luar negeri ketimbang menjelajah negeri sendiri’

Setelah itu, aku pun langsung cek banyak tiket pesawat untuk pulang ke Jakarta terlebih dahulu. Seperti cek Tiket Pesawat Garuda Indonesia, dan cek hampir semua situs pembanding tiket pesawat. Maklum, karena dulu masih anak kuliahan, hal seperti membeli tiket pesawat itu harus di bandingkan secara bijak. Untung ada wesbite-website seperti skyscanner yang mempermudah untuk membandingan dan membeli tiket pesawat untuk pulang ke tanah air.

Sesampainya di Pulau Belitung, kami langsung di ajak untuk ‘island hopping’ oleh penduduk lokal kenalan tanteku. Aku ingat, waktu itu aku masih sedikit lelah karena perjalanan pesawat ku yang cukup panjang. Penerbangan dari Singapore-Jakarta-Bangka-Belitung harus aku tempuh, karena belum ada banyak  jadwal pesawat dari Jakarta ke Pulau Belitung saat itu. Belum lagi 40 menit perjalanan darat yang harus kami lalui dari pusat kota ke tempat sewa perahu untuk kami memulai trip ‘island hopping’ kami.

Akhirnya setelah perjalanan udara, darat dan laut, kami pun sampai ke Pulau Lengkuas. sang primadona dari Pulau Belitung! Rasanya, semua penat pun lepas disana. Angin sepoi yang bertiup, matahari yang tidak terlalu terik, air laut yang jernih, pemandangan yang luar biasa dari pulau tersebut, langsung membuat aku semangat lagi!


Setelah santai-santai dan snorkeling di Pulau Lengkuas, kami pun berangkat ke pulau-pulau kecil yang lainnya, seperti Pulau Babi dan Pulau Tanjung Tinggi yang ternyata tidak kalah menawan dan jernih airnya. Saking jernihnya, aku bisa melihat bintang laut yang sedang berjalan di dalam air!  Sayang sekali, waktu itu aku belum gemar mengambil foto. Jadi hanya foto seadanya saja, dan membawa pulang setumpuk kenangan indah dari sana.


Semenjak perjalanan ke Pulau Belitung, aku pun menjadi penasaran dengan tempat2 di Indonesia yang lainnya yang tidak kalah ‘kece’ untuk di jelajahi. Akhirnya tahun 2016 kemarin, aku berkesempatan untuk mengunjungi Labuan Bajo. Sebuah kota kecil di Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia yang mempunyai keindahan alam yang luar biasa.

Perjalananku menuju ke Labuan Bajo pun harus transit di Bali dahulu waktu itu. Tapi untuk sekarang, ada opsi untuk terbang langsung ke bandar udara Komodo dari Jakarta. Kamu bisa langsung cek Tiket Pesawat Garuda  yang terbang setiap harinya ke Labuan Bajo.

Labuan Bajo hampir Sama seperti Pulau Belitung, dimana para pengunjung bisa melakukan ‘island hopping’. Hanya bedanya, di Labuan Bajo, jarak dari satu pulau ke pulau lain-nya cukup jauh, jadi kita diharuskan menginap di kapal atau ‘Life on Board’ untuk mengunjungi pulau-pulau tersebut. Untuk kapalnya sendiri, itu sangat bervariasi, dari yang kecil sampai yang besar pun ada. Jadi hanya tinggal menyesusaikan budget dan selera kamu saja dalam memilih kapal apa yang ingin dinaiki.

Pemandangan di Labuan Bajo adalah ‘one of the best’ yang aku pernah lihat seumur hidupku. Semua pemandangan dari atas bukit Padar dan Gili Lawa sangat membuatku terpana. Apalagi ketika menjelang sunset, keindahan langitnya sungguh tiada tara. Rasanya aku ingin duduk saja di atas bukit dan menikmati indahnya ciptaan Tuhan tersebut. Sayangnya semua pendaki harus turun ketika malam menghampiri, karena cukup bahaya untuk turun bukit dalam kegelapan.


Tak hanya pemandangan dari atas bukit saja yang cantik, pulau timbul di Labuan Bajo yang bernama Taka Makassar pun, tak kalah indah dengan Maldives. Untuk pertama kalinya aku seperti berdiri di antara dua lautan di kiri dan di kananku, sungguh pengalaman yang sangat menakjubkan untukku si anak kota ini.


Banyak hal lainnya juga dari Labuan Bajo yang sangat menarik, seperti melihat Komodo, si kadal raksasa dari Indonesia, belajar mengenai budaya rumah adat di desa Waerebo, melihat sawah berbentuk sarang laba-laba, dan lain sebagainya. Sepertinya tidak cukup hanya sekali saja mengunjungi Labuan Bajo.


Setelah trip tersebut, aku pun makin penasaran dengan banyak destinasi di Indonesia. Di Tahun berikutnya aku pun menyempatkan diri untuk menjelajah Yogyakarta dan terkesima dengan ‘Cahaya dari Surga’ di Goa Jomblang. Aku pun sempat mendaki Gunung Ijen untuk menyaksikan fenomena ‘Blue Fire’, dan ke Nusa Ceningan untuk di terpa ombak di ‘Devil’s Tear’.

Ternyata memang benar kata pepatah berikut, ‘Traveling – It leaves you speechless, then turns you into a story teller’. Sungguh, aku bisa cerita tanpa henti tentang semua perjalananku sejauh ini. Semoga tahun ini, aku berkesempatan lagi untuk menjelajah tanah airku ini, dan menyebarkannya kepada orang-orang di luar sana, agar mereka bisa merasakan keindahan Indonesia seperti yang aku rasakan.

*Artikel ini di ikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner.

 

 

4 thoughts on “Jatuh Cinta dengan Alam Indonesia

    • Ohh yaaa? Hahahah.. mnurut gw kalo pesawat gede gt kyk ada bau sendiri yg khas gimana gt.. kyk ‘i smell holiday’ kinda feeling baunyaa.. tapi mungkin gara2 ke portray dr kecil kali yaa.. hahaha

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s